Sabtu, 14 Mei 2022

Review Novel Cinta Segala Musim



...dan bukankah cinta diciptakan agar kita saling menemukan?

Pembukaan yang manis dari penulis! 

Jatuh. Ya, rumah tangga Rae dan Rampak sedang jatuh di dasar jurang. Rampak kehilangan hal paling berharga di dunia kerja, yaitu kepercayaan. Meskipun bukan Rampak yang melakukan kejahatan, tapi dia ditipu teman yang selama ini dia percayai dan mengecewakannya jua huhu. Bayangin ya, Rampak tu seorang developer berkualitas, rekornya udah pernah bangun rumah pensiunan tentara, ratusan unit, dll. Dan yang paling mengagumkan adalah Rampak memulai segalanya dari nol demi menikahi Rae. 

Jadi gini ceritanya. Rae ini gadis yang berasal dari keluarga kaya raya. Punya anak pinak bisnis sana sini. Waktu Rampak mau melamar Rae dia cuma seorang arsitek. Lalu Papanya Rae menantang Rampak, kalau Rampak ingin menikahi Rae maka dia harus mampu memberikan Rae hidup senyaman hidup yang diberikan Papanya Rae. Huaaa ini si cukup berat ya. 

Tapi Rampak mampu. Dalam dua tahun, dari nol Rampak mulai menjadi seorang developer sampai sukses membangun rumah dan membeli semua kemewahan untuk kenyamanan Rae saat menikah nanti. Sampek waktu nikah, Rampak minta Rae mengembalikan ATM dan kartu-kartu duit itu ke Papanya karena Rae udah ga butuh itu, Rampak sudah memenuhi semuanya. 

Kehidupan Rae bersama Rampak terbilang sangat sejahtera. Rumah dan mobil mewah, dua pembantu, Rae ga dibolehin kerja sama Rampak. Bak Ratu betul ya :))) Kerjaan Rae cuma beresin kamarnya yang mewah, luas, indah dan nyaman. Karena pembantu atau sembarang orang ga boleh masuk sana. Kenapa? Karena Rae tidak ingin membagi keindahan kamarnya dengan orang lain selain Rampak. Selain itu kerjaan Rae di rumah tu scrooling dunia fashion, sampek ikutan grup difacebook. 

Tepuk tangan yang meriah buat Rampak yang udah ngasi Rae kehidupan seindah itu! 

Sayangnya, roda kehidupan ini berputar. Kini Rampak berada dalam roda paling bawah yang bergesekan langsung dengan aspal yang panas. Huhu perih :( 

Mereka harus menjual seluruh harta benda bahkan rumah mewahnya untuk mengganti rugi pembangunan perumahan yg tidak sesuai standar. Perumahannya itu tu kalo hujan langsong banjir itu apanya si yang salah? Drainase ya? Ya itulah :( Makanya mereka pindah ke kontrakan kumuh deket bukit sawah ladang yang karpet mewah dan hiasan porselin dari rumah lama ga pernah cocok masok sana! 

Di sinilah letak konfliknya. 

Kenapa si mereka harus nyewa kontrakan jelek itu? 
Padahal kan bisa pindah ke rumah orang tua Rampak? Ngga bisa, Rae ngga nyaman. 
Kalo di rumah orang tua Rae? Apalagi. Rampak ga akan nyaman, laki-laki tinggal di rumah mertua? Nafas berat~

Kenapa ga minta bantuan keluarga Rae, kan mereka kaya raya dan papanya Rae juga mau bantu, kan? GA BISA. INI MERENDAHKAN HARGA DIRI RAMPAK SEBAGAI LAKI-LAKI.

Saya setuju dengan keputusan Rampak. Wah itu keren si. Tapi jangan lupa, ada Rae. Bahkan Rae tiba-tiba hamil. Pas dulu kaya raya mencoba segala cara dapetin anak ga dapet dapet, pas jatuh miskin gitu hamil. Ya Allah :)) 

Bayangin Rae yang biasa hidup mewah tetiba harus mandi pake air yang disaring dari warna coklat ke coklat muda! Ga bening Ya Allah :( Sikat gigi pake air galon. Nangis banget ini. Dulu makannya kiwi, blackarent, apel fuji, aggur merah ijo, sekarang pepaya mangga pisang jambu :( Rae vegetarian pemirsa :) 

Tapi hebatnya Rae ga pernah mengeluh apaagi nangis dengan kemiskinan yang tak diundang itu. Dia ga mau Rampak melihat secuil pun kesedihan di matanya karena dia ga mau menambah penderitaan Rampak. Sekarang Rampak ga bisa diterima kerja dimana pun, karena namanya terpampang sebagai penipu di koran koran. Wah ini si blacklist dari dunia bisnis fiks!

Rampak semakin menderita waktu Rae dipaksa pulang ke rumahnya karena ya siapa yang mau biayain dan ngurus istrinya yang hamil. Orang hamil butuh gizi yang baik. Sementara mereka makan sehari hari aja dah berhemat tingkat langit ke tujuh. Ini kasian banget Rampak nangis di kontrakan sendiri. Rae juga rindu Rampak? jelas! Makanya ga lama Rae kembali ke kontrakan itu. Katanya dia harus setia sama Rampak dalam segala musim :) 

Rampak pun akhirnya mengizinkan Rae bekerja dari rumah, dibantuin juga sama Rampak. Sampai suatu hari Rampak ga ada di rumah, Rae ngangkatin sesuatu sendirian dan keguguran. 

Makin tersiksa. Rampak udah ga berharga lagi di mata orang tua Rae, semua marah sama Rampak. Termasuk Rae. Rae akhirnya meledak. Ya dia capek jugalah ya. Sampe kehilangan bayi yang ditunggu tunggu selama bertahun tahun. 

Udah ya, nanti kalian baca aja kelanjutannya. Apakah cinta Rae pada Rampak masih segala musim meski telah terluka sedemikian rupa? 
Selamat membaca ! :)

-----------------------------------------

Pelajaran penting yang paling melekat di kepala saya abis baca novel ini adalah, perempuan kalo mau nikah sebisa mungkin punya sebuah skill yang bisa diandalkan. Ya meski suaminya ga ngizinin kerja, tetaplah punya skill. Karena ga selamanya suami bisa ngasi nafkah, bisa aja dia sakit, bisa aja dia jatuh seperti Rampak, atau meninggal, segala kemungkinan buruk itu bisa terjadi, dan saat itulah skillmu dipake, kaya Rae make skillnya buat kerja dari rumah dan itu bisa bantu kebutuhan ekonomi  sampe Rampak bisa bangkit lagi. 

Karena dalam novel ini, Rae tu sempet nyesel, kenapa dulu dia ga make semua fasilitas yang dikasi Rampak buat ngerjain sesuatu yg lebih bermanfaat. Daripada scrooling dunia fashion ya, upload foto ootd dia buat dikomen sama orang, masih banyak hal lain yang bisa Rae lakukan. Rae juga nyesel banget ga pernah masak. Dia terbiasa dimasakin pembantu. Akhirnya pas jatuh miskin, masak sendiri, meraba raba :( 

Selain itu saya suka sama riset penulis tentang bangunan, konsep rumah, arsitektur, dan lain lain yang menurutku bisa jadi pengetahuan baru buat yang ga kuliah jurusan sipil/arsitektur. Masih banyak hal yang bisa dipelajari dari novel ini yang ga bisa saya paparin semua. 

Dah gitu aja.
Oh masih ada lagi. FYI. Saya baca novel ini Syawal tahun lalu di ipusnas, aduh makasi buat ipusnasku tercinta. Nah kemarin saya beli hardbooknya dan baca ulang :)))

Sampai jumpa :) 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar