![]() |
| Gambar Novel The Mocha Eyes from Goodreads |
" Bagiku hidup seperti secangkir moka, bukan secangkir kopi tanpa gula. Hidup ini terlalu sederhana jika digambarkan dengan satu rasa saja. Cokelat dan kopi sepertinya paduan yang pas untuk menggambarkan hidup. Ada istilah "setiap orang punya kopi pahit kehidupannya" , tetapi aku belum pernah menemukan istilah "setiap orang punya moka kehidupannya".
Bagiku hidup juga bukan berarti sepenuhnya pahit atau manis. Bagiku, kedua rasa itu datang berimbang dikehidupan setiap orang. Aku percaya bahwa dalam setiap penciptaan sedih juga disiapkan penciptaan bahagia, hanya persoalan menunggu waktu.
Apa kamu tau apa yang paling kunikmati di dunia ini? Yaitu menunggu. Hal yang semua orang akan hindari, justru menjadi hal yang paling kunikmati. Ketika menunggu waktu, aku berpikir sejenak sambil menikmati secangkir mochaccino. Rasa mochaccino mungkin bisa berubah menjadi pahit jika dihirup dengan hati yang kesal atau bisa menjadi rasa manis hingga ke dasarnya jika dihirup dengan pikiran yang tenang.
Begitulah aku, menunggu waktuku dengan tenang dan tidak perlu meminta terlalu cepat. Matahari tidak pernah tergesa-gesa menunggu gilirannya saat bulan masih terlihat di angkasa. Malam juga tidak pernah terlalu cepat untuk datang saat pagi masih ingin menyapu embun. Menunggumu bersatu denganku seperti mencari-cari rasa cokelat dalam secangkir mochaccino karena aku tidak akan merasakan manis dalam setiap hal yang tergesa-gesa. Kehadiranmu menjadi hal yang kutunggu, kusesap dengan senyuman, lalu kunikmati setiap manisnya, menafikan sedikit pahit yang ternyata juga terasa manis. Kamu dan aku seperti dua hal yang senada, tetapi berbeda. Aku ternyata justru menemukanmu dalam secangkir cinta. "
--------------------------
FYI : Novel ini series love flavour kedua yang aku baca setelah The Mint Heart. Dan.. hellooo... ini sudah dua tahun berlalu sejak aku baca novel ini. Tapi niat amat sharing isi ceritanya, secara, dulu novel ini temen :D
Ceritanya? Melodis! Sedih!
Itu sih, kesan aku pas habis bacaa. Apalagi kalo ketika membaca ini kamu abis... patah kaki! eh patah hati. :D
Storytelling Aida merasuk dan berhasil bikin baper kita. Oke, diawal cerita mungkin biasa aja, seakan ga ada konflik apa-apa. Tapi semakin ketengah semakin keliatan, sbeenernya si Muara tuh, punya maslaah apa aj sih.
Muara adalah tokoh utama adalam novel Mbak Aida ini. Yang semasa kuliah, ditimpa kasus pelecehan di kampusnya. Seperti biasa, orang-orang yang abis kena beginian biasanya langsung jadi takut-takutan, autis, pokoknya yah, jadi lebih pendiam dan yang pasti, skeptis! sama laki-laki. Ditambah, abis ketimpa kasus ini, Muara kehilangan sang Ayyah! Gimana? Sakit? sakit. sampek nih cewek depresi ngurung diri. Tapi pelan-pelan Muara mencoba bangkit untuk kemudian jatuh lagi. Dimana, motivasi buat bangkit itu Muara dapetin dari Ibunya. Jadilah walaupun memutuskan ngga melanjutkan kuliah, dia kerja.
Waktu itu kalo ngga salah inget, Muara kerja jadi kasir. Terus ketemu sama cowok yang namanya Damar. Singkat cerita mereka jadian. Pacarannnya mereka tuh biasa aja. Muara masih jadi patung yang kalo diajak kencan cuma diem. Yang kalo ditimpa kalimat cinta dari mulut Damar cuma senyum tipis. Tapi diem-diem begitu ternyta Muara mencintai Damar. Hanya saja, dia masih ngga bisa berkomunikasi normal dan menjalin hubungan seromantis orang-orang karena traumatis sejak kasus yang menimpanya dulu. Walaupun Damar udah berusaha deketin dia, menoiba merebut kepercayaan Muara.
Sampek suatu ketika Damar ngajakin Muara ketemu disebuah cafe. Tau Damar bicara apa? Damar memutus Muara. Beserta komplain-komplainnya akan sikap Muara selama ini padanya. Abis itu Damar pergi dannnnnn di pintu cafe ternyata dia udah ditunggu seorang gadis. Wow! Mau nyoba jadi Muara? Itu adalah hari menyakitkan buat Muara.
Si Muara jadi balik jatuh lagi. Terluka. Balik stres. Depresi. Kata Muara : Lukaku bahkan belum sembuh, tapi aku sudah mendapatkan luka yang lain.
Mulai dari sinilah, muara jadi sering menikmati kopi pahit tanpa gula. Setiap pagi, setiap hari. Kenangan mengelilingi kepala Muara. Masih terbayang kejadian di cafe, bahkan hafal aroma tubuh Damar hari itu. Tapi Ibu muara adalah motivasi terbesar yang bikin Muara bangkit dan kerja lagi. Kali ini disebuah restoran.
Kejutan! Damar sama ceweknya suatu hari mampir di restoran tempat Muara bekerja. Damar menyapa Muara tanpa dosa, saat memesan makanan. Kata Muara dalam hati : Damar, kamu menyapaku seakan kau tidak pernah melukaiku.
Mau bayangin? Kamu lagi nyatet pesenan cowok yang masih kamu cinta tapi sudah dipeluk gadis lain dan gadis itu ngga tau apa-apa. Si cowok malah enjoy lagi. Kamunya? Bernanah! Fhhhh... say goodbye!
Sampe sini aja yah?
Cerita selanjutnya, aku kasih bocoran, ternyata Damar ngga bisa move on dari Muara. Dan... seorang cowok populer naksir Muara.
Muara? naksir siapa? jadi sama siapa?
Baca novelnya!
