Selasa, 28 April 2020

Review 'Aruna dan Lidahnya'


Jujur. Bulan lalu aku baru nonton film ini setelah setahun dirilis. Baru baca minggu kemarin setelah dua tahun dirilis. 

Kuliner? Iya. Baca novel ini harusnya berasa wisata kuliner. Ngiler. Beberapa bilang novel ini begitu bagus. Aku juga pas nonton filmnya suka. Sederhana tapi cukup pas. Pas aja. Ga lebih bagus ga kekurangan juga.

Jujur lagi. Aku bingung dengan setiap bab dalam novel ini yang diawali dengan mimpi Aruna. Itu bukan bunga dalam cerita tapi justru semacam ngga perlu. Aruna. Tokoh utama yang berusia 35 tahun, bekerja sebagai epidemiologis. Isi otaknya hanya ada makanan dan makanan serta makanan. 

Mesti begitu aku cukup seneng dengan kehadiran seluruh kuliner dari satu tempat ke tempat lain. Soal topik flu unggas yang diangkat, aku cuma nangkep satu topik : virus flu burung dipolitisasi. Sebenernya ngga ada yang bener-bener kena. Itu yang aku tangkep. 

Tapi plis. Boleh kita beralih ke kelebihan novel ini? Laksmi Simanjuntak emang udah yang paling tepat buat bahas all about kuliner Indonesia. Gimana kita ngga ngiler? Sedangkan makanan yang dibahas selalu yang khas dari setiap daerah. Saya ngiler sekaligus bangga dengan seluruh sajian Indonesia. Betapa kayanya kita akan varian makanan. Iya, mungkin sekaya rempah-rempah yang ada di Nusantara. 

Rujak Soto. 
Lorjuk.
Pengkang
Empek-empek
Kwetiau
Mie Kepiting Singkawang
Choi Pan
Kacang kuah
Bakmi
Segala macam bebek yang mereka coba di Madura.
Dan lain-lain yang gue bahkan ga hafal saking banyaknya yang diungkit. 

Btw aku nemu novel ini di iPusnas. Makasi banyak. Sudah memberikan pinjaman kepada kami yang belum sempat memiliki novel ini, sekaligus mencegah kami mendownload e-book illegalnya. 

Happy reading! Happy kuliner!