Feels like taking a path to heaven
Begitulah semboyan kedai Marzipan, yang mempersembahkan sajian coklat terenak yang pernah ada versi Viola dan lingkungan sekitarnya. Kisah dalam novel ini dimulai justru ketika kedai itu tutup untuk selamanya karena alasan pemilik kedai akan pindah ke Inggris, Bu Elisa. Informasi ini didapat dari hasil kunjungan Viola dan Auden langsung ke rumah pemilik kedai sebagai, sebutlah semacam protes. Nah dari sinilah Viola dan Auden mulai akrab. Setelah sebelumnya mereka terlibat drama 'rebutan coklat marzipan'.
Viola. Tokoh utama yang tinggal berdua saja dengan adiknya Olav. Orang tua mereka telah bercerai karena alasan terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan. Maksudnya begini, mereka sama-sama jarang di rumah dan jarang bertemu keluarga jarang berkumpul bersama, jadi menurut mereka buat apa menjalani relasi seperti itu? Toh sama seperti tak ada relasi, mereka putuskan bercerai. Viola dan Olav ngga akur, tapi mereka terlihat saling melindungi dan menyayangi. Viola sudah sejak kecil menjadi penggila coklat marzipan.
Berbeda dengan Auden. Terpisah dengan Reagen, sudah sejak adiknya ini meninggalkan Indonesia untuk SMA di luar negeri. Orang tua mereka sudah tiada. Diyakini meninggalnya mereka karena kesalhan Reagen (ini versi Reagen sendiri) , makanya dia saking merasa bersalahnya sampai harus meninggalkan rumah. Tapi menurut Auden tidak, itu memang musibah dan kecelakaan murni. Hubungan mereka renggang karena perpisahan ini. Auden tidak pernah setuju Reagen pergi, so dia marah sampai dua tahun mendiamkan adiknya. Surel-surel Reagen tak pernah dibalasnya. Nah, coklat marzipan adalah salah satu kenangan indah Auden bersama Reagen, itulah kenapa dia mengidolakan coklat tersebut.
Auden tiga tahun di bawah Viola, so Auden masih kuliah, sedangkan Viola sudah bekerja di Angelir's Shoes sebagai desainer sepatu. Mereka berkenalan sejak Auden mengajak Viola menanyakan kepada pemilik Marzipan mengapa kedai itu tutup. Oh iya, pemilik Marzipaan adalah sahabat baik Ibunya Auden. Namun siapa sangka mereka justru diminta membuat coklatnya sendiri, karena Marzipan tidak akan pernah buka lagi. Bu Elisa bersedia menerima konsultasi mereka setiap minggu, sebulan sebelum kepindahan beliau. Nah momen inilah yang mendekatkan keduanya.
Sering bersama membeli coklat, saling mengkontak hanya untuk membicarakan coklat, pergi ke rumah Bu Elisa bersama, kadang berboncengan kadang Viola naik angkot sendiri, dan lambat laun Bu Elisa membuka sedikit demi sedikit fakta tentang Auden. Mungkin memang benar ya, sering bersama akan menjadi kebiasaan untuk tidak lengkap tanpa kehadiran salah satunya, lambat laun itulah yang menimbulkan rasa cinta. Itu pula yang terjadi diantara mereka berdua. Saling jatuh cinta.
Tapi benarkah Viola jatuh cinta pada Auden? Dia yang sebelumnya tak pernah mengenal cinta, tiba-tiba selalu tersenyum setiap Auden menelpon dan merasa bahagia setiap pertemuan mereka. Apakah Auden tertarik pada Viola? Mengingat Viola lebih tua darinya dan, Viola pun mulai ikut campur urusan pribadinya dengan Reagen.
Masih banyak selipan kisah lainnya, yang akan memberikan suguhan pengalaman dan pelajaran untuk kita semua. Novel ini tidak lebih dari 300 halaman. Tapi cukup hangat. Sehangat coklat yang Viola ciptakan.
Penasaran akan kisah cinta mereka? Dan darimana datangnya nama 'heartwarming coklat' . itu bukan sekedar judul loh ya, tapi hadir melalui perjalanan mereka berkesperimen coklat berpuluh-puluh kali. Apakah heartwarming coklat sudah setara dengan rasa coklag Marzipan idola mereka?
Lets read it!
Btw aku suka covernya, manis :)
Lagi-lagi thanks to iPusnas !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar