![]() |
| Novel The Mint Heart |
Dia memang selalu begitu, dingin. Tapi begitulah dia, dan aku menyukainya tanpa banyak protes, seperti aku menyukai mint ice cream yang membekukan lidahku. Dia mirip seperti itu, paling dingin dari yang terdingin. (Hal. 5)
Aku telah menunggunya, lama. Lalu, kenapa sekarang aku harus meninggalkannya? Aku menantinya sejak dulu, sejak kali pertama aku mengenalnya, berharap hatinya yang beku mencair. Seperti mint ice cream yang lupa kumasukkan dalam lemari pendingin. Ia mencair dan yang tinggal hanyalah sensasi dingin. Karakternya yang kuat itu tak mungkin hilang. (Hal. 23)
Mencairkan hatinya bukan untuk kumiliki sendiri. Aku ingin ia bisa merasakan cinta yang hangat dari orang-orang di sekelilingnya. Jadi, meskipun sekarang tak seperti itu, bukan masalah untukku karena aku tahu selalu ada jarak antara harapan dan kenyataan. (Hal. 24)
Kedinginan kata-katanya membuatku membeku. Seperti ada es yang merasuk ke dalam aliran darahku dan menyakitiku. Kualihkan sesakku ke awan-awan putih. (Hal. 24)
Mencintainya seperti menikmati seporsi mint ice cream. Kebekuan hatinya, dingin menyentuhku, tak cukup satu sendok untuk merasakannya. Bulir pahit yang melebur di dalamnya justru membuatku menyendok lagi, dan lagi… (Hal. 25)
Aku takut. Ini sebuah ketakutan yang lebih besar. Aku takut karena mungkin aku tidak akan bisa lagi menyandarkan kepalaku di bahunya. Bagaimana mungkin aku bisa berdiri tegak di sampingnya tanpa teringat bahwa aku pernah menyandarkan kepalaku disana. Pernah. (Hal. 74)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar